Para Ahli Menjawab Pertanyaan: “Mengapa Bitcoin Tembus Rp 150.000.000,- ?”

    128
    0
    SHARE

    Mengapa Bitcoin Tembus Rp 150.000.000,-. Pada bulan Januari tahun 2017, harga Rp 14.000.000,-  adalah tonggak yang ingin dicapai oleh para pemilik Bitcoin. Mata uang digital ini ternyata berhasil mencapai tonggal dan tersebut dan malah memperlihatkan peningkatan sepuluh kali lipat menjadi lebih dari Rp 150.000.000,- pada akhir tahun ini. Memang, tahun ini dipenuhi dengan kabar baik untuk mata uang digital ini, mulai dari ledakan pasar Asia, hingga integrasi Bitcoin dengan Square App, peluncuran pasar berjangka yang ada aturannya dan adopsi mainstream yang semakin meningkat. Meski ditertawakan selama bertahun-tahun, Bitcoin baru mulai menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan dalam ekonomi global.

    Pada website Cointelegraph, Cointelegraph memiliki kesempatan untuk mewancarai beberapa ahli dan bertanya kepada mereka: “Bagaimana Bitcoin dapat mencapai angka Rp 150.000.000,- ini?” Dibawah ini adalah beberapa jawaban dari para ahli tersebut:

    Uang institusional

    Hedge fund, dana pensiun, perkantoran keluarga dan sejenisnya telah menunjukkan ketertarikan yang luar biasa pada Bitcoin tahun ini. “Lembaga” semacam itu mengendalikan sejumlah besar uang. Sebagai contoh, hedge fund Man Grup yang berbasis di Inggris, telah menyatakan minatnya untuk melakukan perdagangan Bitcoin, mengendalikan aset melebihi USD$ 100 miliar.

    Simon Yu, CEO StormX, mengatakan:

    “Harga Bitcoin berada pada titik tertinggi sepanjang masa karena uang institusional akhirnya mulai mengalir ke pasar cryptocurrency. Baru-baru ini, muncul pula pengumuman dari Bank Korea Selatan Hyosung yang mendukung Bitcoin, dari CME Group mengumumkan bahwa mereka akan meluncurkan pasar berjangka Bitcoin, dan dari Square Cash mengumumkan bahwa Bitcoin akan didukung karena perilaku bullish di pasar, mengarah ke perubahan besar.”

    “Masyarakat umum mulai menyadari bahwa Cryptocurrency mulai diadopsi ke pasar mainstream dan akan terus meningkat karena mereka melihat potensi lebih banyak perusahaan untuk mengadopsi criptocurrency.”

    Christopher Gray, COO dari Caplinked, setuju dengan pernyataan Yu, tapi tidak tentang Bullish, dalam menanggapi terkait hal ini dia mengatakan:

    “Investor yang tidak terbiasa dengan criptocurrency akan mulai menyumbang uang baru ke Bitcoin, hal ini yang akan membuat situasi sangat tidak stabil karena investor memperkirakan harga Bitcoin akan terus naik. Setiap penurunan bisa dibesar-besarkan secara dramatis karena mereka bukan pemilik crypto yang stabil.”

    “Sebagai alternatif, harga bisa terus meningkat secara parabola, menghasilkan jumlah yang sangat besar dalam puluhan miliar dolar dari investasi cair berisiko lainnya seperti saham pertumbuhan dan obligasi sampah. Hal ini dapat menyebabkan harga dari investasi tersebut melemah karena likuiditas bergerak keluar dari mereka dan masuk ke Crypto. ”

    “Bagaimanapun, situasi ini tidak akan stabil dan tidak akan dapat berlanjut untuk jangka waktu yang lama. Sesuatu perlu diberikan di salah satu pasar risiko, karena likuiditas di pasar ini tidak terbatas dan tidak ada yang tercipta, baru saja berpindah dari satu pasar risiko ke risiko lain oleh spekulan. Ini tidak masalah bila nilai total kripto masih kecil, namun apabila nilainya telah mencapai ratusan miliar, tentu hal tersebut akan menjadi hal yang substansial pada pasar resiko kapital global.”

    Pendatang baru masih merupakan pengadopsi awal

    Mengapa Bitcoin Tembus

    Pada tahun 2014, ketika Bitcoin masih dalam ayunannya yang pertama setelah Coinbase dan beberapa pasar bursa cryptocurrency meningkatkan User Experience mereka, orang-orang sudah bertanya: “Apakah terlambat masuk ke Bitcoin?”

    Pertanyaan-pertanyaan itu bertahan sampai sekarang dan selalu kambuh setiap kali harga Bitcoin mengalami kenaikan. Namun, karena diperkirakan hanya setengah persen dari populasi global yang akan menggunakan mata uang digital, maka masih banyak waktu untuk menjadi pengadopsi awal.

    Jon Chou, CEO Bee Token mengatakan:

    “Orang sering mengeluh bahwa sudah terlambat untuk masuk dalam pasar penggunaan Bitcoin, sebagian besar pengadopsi awal telah ada sejak tahun 2010 dan tidak ada lagi atau hanya tersisa sedikit ruang untuk keuntungan. Saya menawarkan sudut pandang jangka panjang dan ini bukanlah nasihat finansial Menurut blockchain.info, ada sekitar 700.000 alamat Bitcoin per November 2017.

    “Salah satu masalah utama yang dipecahkan Bitcoin adalah masalah pengiriman uang, yaitu pendistribusian akses secara global…Nah, ada tujuh miliar orang di dunia ini. Dengan asumsi tingkat penetrasi 10% dan jika setiap orang memiliki hanya satu alamat, maka masih ada 700 juta alamat yang berpotensi di masa depan. Ini adalah potensi 1000 kali lipat di basis pengguna. Terlepas dari fluktuasi harga dalam jangka pendek, penting untuk menyadari betapa awal kita berada di ruang Blockchain secara keseluruhan.”

    Sol Lederer, Direktur Blockchain di LOOMIA menggemakan  Chou’s Points, yang menyatakan bahwa Bitcoin masih dalam tahap awal dan Bitcoiners dari tahun 2010 dan sebelumnya sekarang mulai dibenarkan setelah selama ini dianggap menjadi korban penipuan.

    “Bitcoiners lama akhirnya merasa yakin bahwa mata uang mereka yang telah diejek selama bertahun-tahun, akhirnya dianggap serius. Penentang mungkin masih mengatakan Bitcoin adalah gelembung, tapi sangat sedikit yang berpendapat itu tidak berharga atau scam, namun baru setahun yang lalu ini adalah narasi umum.

    “Masa depan Bitcoin masih belum pasti; Bitcoin menghadapi tantangan teknis serius yang sama selama bertahun-tahun, dan menghadapi persaingan yang ketat dari Blockchains yang lebih baru dan lebih canggih. Tetapi bahkan jika terjadi crash, jelas bahwa Bitcoin masih akan ada untuk tinggal. Apakah itu diperdagangkan pada USD $ 10.000, $ 5.000, atau $ 500, dia tidak akan pergi.”

    Sumber: Cointelegraph by Darryn Pollock

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here