Konferensi Blockchain Indonesia – BlockBali 2017

52
0
SHARE

Konferensi Blockchain BlockBali. Pada tanggal 27 Oktober 2017 yang lalu, cryptolocho menghadiri konferensi Blockchain Internasional bertajuk BlockBali 2017 yang diselenggarakan oleh Black Arrow yang bertempat di Hotel Trans Resort Bali. Pada kesempatan tersebut, banyak profesional blockchain, bitcoin dan para pelaku Initial Coin Offering yang hadir dan berbagi informasi terkait dunia cryptocurrency yang sedang populer.

Nama-nama yang menjadi pembicara adalah:

  • Michael Yuan, Chief Scientist dari Cybermiles;
  • Jasmin Gungor, Guest Speaker dari Cointed;
  • Marco Kron, Officer dari Genesis Mining;
  • Oscar Darmawan, CEO dan Co Founder Bitcoin Indonesia;
  • Stephen DeMeulenaerem Co Founder dari Coin Academy;
  • Matejh Michalko, Founder dan CEO dari Decent;
  • Sasha Ivanov, CEO dan Founder dari Waves Platform;
  • Roberto Capodiechi, founder dari Blockchain Zoo;
  • Jorg Molt, CEO dari Satoshi School;
  • I Made Wisnu Wardhana, dari Kepolisian Indonesia;
  • Gregory Van Den Bergh, CEO dari MiCai;
  • Robert Dowling, Director Alluminate.io;
  • Zi Bin (Zac) Cheah, CEO dari Pundi X;
  • Hope Liu, CEO dari Eximchain;
  • Roger Haenni, CEO dari Datum.

Cryptolocho melihat bahwa sebenarnya event tersebut adalah serangkaian event marketing dimana para CEO perusahaan start up baru berbasis blockchain melakukan presentasi terkait produk yang akan mereka kembangkan. Seperti DATUM yang menawarkan cara bagaimana memonetize big data setiap individu, PUNDI-X yang menawarkan perangkat keras Pundi X POS untuk melakukan transaksi jual beli digital aset secara instant, Cybermiles yang menawarkan market place online terdesentralisasi dan masih banyak lagi.

Meskipun demikian, yang paling menarik adalah presentasi dari Mr. Jorg Molt, pendiri Sathosi School. Pada kesempatan tersebut dia mengawali pembicaraannya dengan pembahasan mengenai fundamental filosofi dari bitcoin itu sendiri. Dengan mengatasnamakan kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan, dikatakan bahwa bitcoin menyediakan platform untuk melakukan transaksi paling aman secara gratis. Sebuah usaha untuk melepaskan diri dari hegemoni para perantara (intermediaries) yang sering kali meraup keuntungan dari para penggunanya, seperti perbankan, pemerintah dan lembaga kliring.

Dengan bitcoin, para pengguna dimungkinkan untuk secara gratis memanfaatkan platform dan melakukan transaksi digital aset ke seluruh dunia dengan cepat dan aman. Hal ini sangat berbeda dengan alternatif coin lain yang pada intinya hanya ingin mengumpulkan dana masyarakat untuk keuntungan perusahaan mereka sendiri.

Sejalan dengan pemikiran cryptolocho, Molt mengatakan bahwa dalam jangka waktu lima tahun kedepan sistem ekonomi global akan mengalami krisis besar-besaran akibat Puncak Hutang (Deep Peak) Siklus Hutang Jangka Panjang yang sudah diperkirakan oleh banyak ekonom, bahkan Jorg Molt dengan lantang dan berani mengatakan bahwa , seluruh alternatif coin akan perlahan-lahan redup dan menurun harganya, sedangkan bitcoin akan tetap bertahan dipuncak dan menjadi pilihan utama untuk melakukan transaksi. Tidak menutup kemungkinan bahwa Bitcoin dan blockchain akan menjadi sistem ekonomi baru yang akan menggantikan sistem ekonomi kita yang telah rapuh.

Konferensi Blockchain
Bitcoin vs Fintech

Kesempatan bukan Hambatan

Sebagai seorang yang memiliki 200.000 bitcoin di tahun 2017 ini, wajar saja jika Jorg Molt berani mengatakan hal tersebut didepan para pelaku dan early adapters ICO. Tentu saja dengan harga bitcoin yang telah mencapai Rp. 100.000.000,- pada hari ini, dia telah memiliki uang sekitar 20 trilyun rupiah. Uang sudah tidak menjadi masalah bagi dia.

Apa yang disampaikan oleh Jorg Molt memang ada benarnya, namun tidak sepenuhnya menjadi hambatan terhadap tumbuhnya alternatif coin yang semakin marak. Bitcoin tanpa alternatif coin yang lain tidak akan menjadi semarak sekarang ini, begitupun sebaliknya. Mereka bersama-sama mengantarkan pertumbuhan market cryptocurrency sampai menjadi seperti saat ini, keduanya membutuhkan satu sama lain untuk berkembang. Masalah collaps atau tidak, bukan menjadi permasalahan utama, namun lebih kepada kesempatan apa yang dapat dikembangkan dengan teknologi Blockchain dan alternatif cryptocurrency tersebut.

Intinya adalah value atau nilai. Harus ada value yang diberikan kepada masyarakat luas untuk menumbuhkan kepercayaan kepada blockchain dan teknologi terdesentralisasi lainnya. Hampir semua perusahaan besar selalu memiliki model bisnis yang mampu menghantarkan manfaat bagi para penggunanya. Value menjadi sangat penting untuk diprioritaskan sebelum kalian menentukan produk atau teknologi. Misalnya seperti kemudahan transaksi, produk yang murah atau bahkan gratis, perhatian kepada UX yang mampu menyelesaikan masalah global secara umum, serta penyediaan user interface yang intuitif dan lain sebagainya.

Adopsi Masal Cryptocurrency

Para pelaku cryptocurrency saat ini masih berada dalam tahap early adopters atau pengguna awal, masih jauh perjalanan menuju adopsi masal sebagaimana ditunjukan pada infografik diatas. Oleh karena itu masih banyak kesempatan dan tantangan untuk ikut berpartisipasi dalam pengembangan teknologi yang akan mengganti sistem keuangan secara global ini.

Akhir kata, bagi kalian para developer atau investor yang tertarik untuk membuat sebuah platform berbasis blockchain, temukanlah nilai dan manfaat apa yang akan kalian berikan terlebih dahulu kepada masyarakat, baru kemudian kalian boleh bereksperimen pada produk dan teknologi apa yang paling sesuai dengan visi dan misi kalian. Jangan pernah takut untuk memulai.

Rahayu!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here