SilentNotary – Revolusi Sistem Hukum Berbasis Blockchain

7
0
SHARE

Sistem Hukum?

Pernahkan paralocho berpikir, mengapa di dunia tempat kita tinggal ini membutuhkan sebuah sistem hukum atau pranata untuk mengatur kehidupan kita? Bagaimana seorang Roscoe Pound misalnya, mengatakan bahwa hukum adalah alat untuk merekayasa sosial (as a tool of social enginering), mengapa kita manusia perlu direkayasa? Apakah kalian tidak tertarik untuk mencari tahu bahwa makhluk yang digada-gada paling mulia ini malah menjadi satu-satunya makhluk di dunia yang membutuhkan orang lain untuk mengatur kehidupannya dalam tulisan pada lembaran-lembaran kertas?

Apakah kalian sungguh tidak tersinggung dengan hal tersebut?

Hal tersebut terkait dengan penyakit bawaan kita manusia yang disebut Schadenfreude, secara definisi Schadenfreude berarti perasaan puas atau gembira bila melihat orang lain dalam kesusahan, kondisi yang tidak menguntungkan atau berada dalam posisi yang lebih rendah dari kita. Secara sederhana, Schadenfreude ini adalah kejahatan bawah sadar. Bahwa setiap manusia pasti memiliki potensi untuk melakukan kejahatan yang biasanya terdorong oleh pencarian-pencarian harga diri, bisa dalam rangka mencari penghormatan agar dapat berbangga hati dan sombong atau sekedar menghindari perasaan nista yang muncul dari iri hati.

Dari rasa sombong dan iri tersebut, manusia baik disadari atau tidak disadari akan berpotensi untuk menistakan orang lain, mencuri barang orang lain, berbohong dan bahkan membunuh orang lain.

Mungkin paralocho baru pertama kali mendengar istilah ini, namun hal inilah yang membuat orang baik melakukan kekerasan atau kejahatan. Sistem budaya, pendidikan dan pandangan kehidupan yang tidak realistis menyebabkan orang berlomba-lomba untuk menjadi baik secara superficial atau kulit luarnya saja, dan untuk mendapatkan kebanggaan harga dirinya tersebut, biasanya manusia akan merepresi agresifitasnya yang kemudian muncul secara subliminial dalam tindakan-tindakan yang secara politik dianggap benar atau secara agama dianggap benar, misalnya petrus (penembak misterius) atau ISIS (Islamic State) yang melegetimasi segala sesuatu perbuatan jahatnya atas nama ideologi-ideologi tertentu.

Apakah kalian mulai lihat benang merahnya?

Inilah yang selama berabad-abad dicoba untuk dikemukanan dan diajarkan kepada publik oleh tokoh-tokoh seperti Ki Ageng Suryamentaram, Jiddu Khrisnamurti dan lain sebagainya. Mereka pada dasarnya sedang menggugat kemajuan peradaban yang dialami manusia, bahwa yang berada dibalik perbaikan atau kemajuan sebetulnya secara psikologis kejiwaan manusia tetap biadab, agresif, manipulatif, eksploitatif.

Hal tersebut dapat terjadi akibat Schadenfreude yang tidak disadari sebagaimana disinggung diatas, manusia berlomba-lomba berbuat kebaikan dengan cara menindas yang lainnya, berebut berbuat pahala dengan cara saling menjatuhkan. Karena dilakukan melalui cara kebaikan ia mendapat keuntungan status dalam persaingan sosial, namun sayangnya tidak sadar sistem sosial yang mereka bangun ada sistem sosial yang korup dan manipulatif.

Dan yang sangat memprihatinkan, masih banyak manusia  yang malas untuk mencari kebenaran, mereka malas sekali untuk melihat Realita dengan menggunakan “mata” yang dimilikinya sendiri. Mereka lebih asyik, lebih khusyuk dan lebih gemar meminjam mata orang lain, meminjam otak orang lain, meminjam telinga para manusia-manusia yang menghabiskan waktu sehari-harinya di tempat-tempat ibadah. Entah, benar atau salah, potensi misleading dan simulacra memang benar telah terjadi beratus-ratus tahun akibat kondisi manusia-manusia yang dangkal jiwanya seperti ini, yaitu mereka-mereka yang tidak berkenan Madheg Pribadi (mandiri melakukan pencarian).

Sebenarnya apabila makhluk yang namanya manusia ini berkenan untuk memahami dirinya sendiri, bersedia melihat egonya sendiri, berhasil meneliti bahwa yang mencari penghormatan atau menghindari dinistakan oleh orang lain tersebut munculnya dari rasa apa dan yang bagaimana, maka sebenarnya hukum atau rekayasa sosial sudah tidak menjadi penting.

SilentNotary Legal System Revolution
Image Courtesy: Pixabay

Namun sepertinya hal tersebut memang belum waktunya terjadi, memang manusia-manusia yang malas berpikir dan tidak mandiri mencari harus diatur oleh sesuatu yang lain, dan melihat fakta bahwa sistem HUKUM-pun ternyata tidak mampu memperbaiki kehidupan manusia sekama berabad-abad, kini pikiran kami tertuju kepada blockchain.

Blockchain

Jika manusia selalu membawa potensi korup dalam dirinya, maka jawaban sementara kami adalah dengan menggunakan dan memanfaatkan ALGORITMA, algoritma tidak bisa diancam, dia tidak takut kematian, dia tidak punya keluarga untuk dilindungi dan  dia mampu memberikan kepastian tanpa ada suatu apapun yang dapat menghalang-halangi. Dan algoritma yang kami maksud ini bernama Blockchain.

Pertama-tama, untuk kalian yang tertarik dengan bahasan kali ini kami sarankan agar kalian membaca terlebih dahulu Teori Permainan (Game Theory) yang dimiliki oleh Blockchain. Pada intinya, sistem ini mampu memberikan insentif bagi pengguna yang melakukan perbuatan-perbuatan yang “seharusnya” dilakukan dan mampu memberikan hukuman secara langsung kepada para pengguna (user) yang melakukan “kejahatan” tanpa dapat ditawar-tawar lagi, menggunakan sistem algoritma yang tidak dapat diganggu-gugat oleh siapapun juga.

Secara sederhana, berbicara hukum adalah berbicara mengenai bukti atau evidence. Tidak ada orang yang dapat dijatuhi hukuman tanpa ada bukti yang menyertai perbuatan hukumnya. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, Blockchain dapat menjadi pusat data yang terdesentralisasi dimana setiap orang yang berhak (bisa para pihak dalam perjanjian atau otoritas yang berwenang seperti pengadilan), dapat mengakses, melakukan verifikasi terhadap suatu benda atau barang yang menjadi bukti (evidence) dan tidak ada satu orangpun yang dapat memanipulasi atau menghubah data tersebut.

Mengapa tidak bisa diubah? Ingat desentralisasi, semua jaringan yang tergabung dalam sistem blockchain akan menyimpan data-data tersebut secara mandiri, satu-satunya cara untuk merubahnya adalah dengan melakukan hacking atau pembajakan kepada tiap-tiap jaringan yang tergabung, yang mungkin saja berjumlah ribuah atau bahkan jutaan blocks, dan sepertinya hal tersebut mustahil untuk dilakukan.

Mari kita ambil contoh yang sedang marak, berita terhangat di Indonesia adalah kasus tentang Korupsi E-KTP, diberitakan bahwa yang memiliki data tentang E-KTP telah meninggal dunia karena bunuh diri. Entah dia mengalami pembunuhan atau memang bunuh diri akibat tekanan yang diberikan oleh pihak-pihak yang berkepentingan, kita hanya bisa sebatas menebak-nebak. Namun bayangkan, jika data E-KTP tersebut sudah dimasukan dalam sistem yang terdesentralisasi sebagaimana dijelaskan diatas? Apakah “penjahat” itu mampu membunuh semua orang yang ada di dunia ini yang telah bersatu padu untuk mengamankan data-data penting tersebut itu tadi? Bukankah ini merupakan hal yang menarik?

Contoh yang lain dalam bidang hukum perdata, misalnya kalian paralocho hendak melakukan pembelian sebuah aset properti, dengan menggunakan teknologi Blockchain maka kalian cukup merekam bunyi Perjanjiannya, mengirimkannya pada sistem, menyetujuinya dengan smart contract yang disediakan oleh sistem dan mengirimkannya uangnya pada lembaga escrow (penampungan) yang akan menyimpan uang dan akan memberikan kepada pemilik sesuai dengan tahapan yang disepakati dalam Perjanjian. Jika salah satu pihak melakukan wanprestasi maka sistem yang akan memberikan hukuman, hukuman tersebut misalnya pembekuan wallet (dompet) yang berisi aset cryptocurrency paralocho sampai dengan dituntaskannya hak dan kewajiban salah satu pihak yang melakukan wanprestasi tersebut atau bisa juga aset pihak yang wanprestasi tersebut akan dikurangi atau didenda secara otomatis, ingat HUKUMAN adalah cara terbaik untuk menakut-nakuti manusia agar tidak berbuat sesuatu yang merugikan dirinya dan orang lain.

Apa yang kami sedang bicarakan ini memang masih terdengar muluk-muluk, masih belum saatnya terjadi, namun tenanglah, sebuah perusahaan startup yang sangat antusias terhadap kehadiran Blockchain sudah memulai proyek sebagaimana kami jelaskan diatas. Mereka menamakan dirinya sebagai Silent Notary.

SilentNotary

Silent Notary adalah sebuah proyek yang menyediakan layanan yang memanfaatkan teknologi blockchain untuk mengkonfirmasi kebenaran sebuah kejadian atau dokumen. SilentNotary dapat memastikan bahwa suatu kejadian atau fenomena adalah benar-benar terjadi, legal dan sesuai fakta tanpa ada kesempatan untuk memalsukan bukti atau fakta-fakta yang sebenarnya.

Namun jangan terkecoh oleh namanya, SilentNotary bukanlah seperti Notaris yang kita kenal pada umumnya sebagai suatu institusi yang terpusat  dibawah wewenang kementerian kehakiman sebuah negara. SilentNotary adalah sistem terdesentralisasi, sebuah sistem yang memungkinkan untuk menetapkan secara tegas, jelas dan aman bahwa terdapat suatu dokumen elektronik yang telah terverifikasi pada suatu waktu tertentu. Sistem ini sebenarnya merupakan analogi dari protokol utama profesi notaris yaitu yang befungsi untuk memeriksa, menjadi saksi dan menjadi pihak yang berhak menyimpan dokumen-dokumen, dalam hal ini yang disimpan nantinya adalah dokumen-dokumen elektronik. Tugas utama sistem ini adalah memberikan bukti dari keberadaan sebuah dokumen di pengadilan yang dapat diatribusikan, diterima, dapat dipercaya serta dapat diverifikasi oleh hakim.

Hal yang menarik berikutnya, sistem ini juga akan diintegrasikan dengan aplikasi pengiriman pesan atau messenger, kalian dapat merekam setiap kejadian dengan berbagai macam pilihan dokumen digital seperti foto, video, rekaman suara, pesan singkat atau chatting, group chat dan lain sebagainya. Sebagai tambahan, sistem ini akan memiliki fitur mailbot yang akan memungkinkan kalian untuk memastikan alamat korespondensi dengan sejumlah pihak-pihak yang berkepentingan. Proyek ini akan dimulai dengan menggunakan chatbot yang dibangun diatas Facebook Messenger yang telah memiliki pengguna sebanyak 1,2 milyar orang pada kuartal pertama tahun 2017 ini..

Selain chatbot sebagaimana disebutkan diatas, sistem ini nantinya akan memanfaatkan 3 user interfaces yang dapat dimanfaatkan oleh para penggunanya, yaitu melalui Email, Website dan Chatbot itu tadi.

Nah, bagi paralocho yang tertarik dengan proyek ini dan hendak berpartisipasi ataupun berinvestasi dalam sistem yang revolusioner ini, kalian dapat membaca informasi lebih lengkapnya pada website SilentNotary pada tautan ini, sedangkan untuk whitepaper SilentNotary silahkan di klik tautan ini.

Untuk mengakhiri artikel ini, sebaik apapun sistem atau teknologi yang kita temukan nanti, kita tetap masih berada di dunia dengan segala macam bentuk dualitasnya ini, ada terang ada gelap, ada depan ada belakang, ada siang ada malam, serta ada yang jahat ada pula yang baik. Oleh karena itu peperangan diantara kedua kubu tersebut pasti akan terus terjadi, namun jika Blockchain ini berhasil menyatukan dan menyadarkan tiap-tiap manusia akan kemuliaannya masing-masing, maka benar, kerajaan surga kebahagiaan akan benar-benar datang di dunia.

Karena adil haruslah buta seperti algoritma dan adil harus tersebar serta dirasakan seluruh dunia!

Twitter:

https://twitter.com/SilentNotary

Facebook:

https://www.facebook.com/SilentNotary

Rahayu! May all the creatures full of joy and happiness!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here